Follow Us !

Hardware Keylogger

Bagi teman2 yang sering ke WarNet, coba kalian periksa di belakang PC bila ada COLOKAN HITAM...Saya sarankan JANGAN On Line di WarNet tersebut !!!.....

9 Game Superhero Terbaik Sepanjang Masa

Karakter superhero memang menarik. Tak heran jika hiburan berbasis superhero seperti film sampai video game berpotensi besar menarik minat banyak orang...

EA Siap Rilis Need For Speed Most Wanted 2

Penggemar game balap tentu sudah tidak asing lagi dengan game Need For Speed besutan Electronic Arts (EA). Baru-baru ini dikabarkan bahwa EA akan meluncurkan sekuel terbaru game Need For Speed “Most Wanted 2”...

Irit berinternet dengan SMADAV

mungkin anda/kalian semua pengen dong yang namanya ngirit apa lagi gratisan...

Meningkatkan Site Linkin Super Cepat

saya baca ketika berkunjung di blog sahabat, kemudian saya lihat Widget Alexa Ranknya. Woowww…

Tampilkan postingan dengan label Lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lesson. Tampilkan semua postingan

Tepung Biji Buah Durian


1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Dari sekian banyaknya varietas buah-buahan yang berkembang di Indonesia, tentunya tidak semua dapat diunggulkan. Durian merupakan salah satu varietas buah yang telah diuji dan dipastikan serta dilepas dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 476/KPTS/Um/8/1977 sebagai buah varietas unggul di Indonesia (Nuswamarhaeni, 1999).
The king of the fruit, merupakan julukan bagi buah durian yang merupakan salah satu jenis buah yang telah lama berkembang dan ditanam di wilayah nusantara ini. Daging buahnya yang bertekstur lunak dengan rasa yang nikmat serta baunya yang khas dan tajam membuat buah yang berduri ini selalu digemari oleh berbagai lapisan masyarakat walaupun harganya relatif mahal.
Bobot total buah durian terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, daging buah sekitar 20-35%; kedua, biji sekitar 5-15%; sisanya berupa bobot kulit yang mencapai 60-75% dari bobot total buah (Untung, 2008). Masyarakat pada dasarnya hanya mengkonsumsi daging buah durian, hal ini berarti 65-80% bagian durian yang lain yaitu biji dan kulit tidak dikonsumsi, sehingga menjadi sampah yang banyak dan menumpuk seterusnya menimbulkan polusi dan mengundang serangga serta bibit penyakit akibat lingkungan yang tidak bersih.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, produksi buah durian terbanyak menurut provinsi per tahun adalah Provinsi Sumatera Utara dengan jumlah produksi 128.803 ton, diikuti Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah masing-masing dengan jumlah produksi 91.097 ton, 91.078 ton dan 65.019 ton, sementara total produksi buah durian di Indonesia adalah 682.323 ton (BPS, 2008). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa sebagai daerah yang banyak memproduksi buah durian, berarti banyak pula sampah biji dan kulit durian yang dihasilkan.
Berdasarkan penelitian Hatta (2007) dalam Rofaida (2008), kulit durian secara proporsional mengandung unsur selulose yang tinggi (50-60%) dan kandungan lignin (5%) serta kandungan pati yang rendah (5%) sehingga dapat diindikasikan bahan tersebut bisa digunakan sebagai campuran bahan baku papan olahan serta produk lainnya. Selain itu, limbah kulit durian mengandung sel serabut dengan dimensi yang panjang serta dinding serabut yang cukup tebal sehingga akan mampu berikatan dengan baik apabila diberi bahan perekat sintetis atau bahan perekat mineral (Rofaida, 2008).
Biji buah durian sering dianggap tidak bermanfaat, ataupun sebatas dimanfaatkan untuk dimakan setelah dikukus atau direbus maupun dibakar oleh sebagian kecil masyarakat. Biji durian sebagai bahan makanan memang belum memasyarakat di Indonesia, padahal jika mendapatkan penanganan yang serius biji durian dapat dimanfaatkan sebagai penghasil tepung yang tidak kalah dengan tepung lainnya yang akan meningkatkan nilai ekonomis dan kemanfaatannya. Biji durian memiliki kandungan pati yang cukup tinggi sehingga berpotensi sebagai alternatif pengganti bahan makanan (AAK, 1997). Winarti (2006), menyebutkan bahwa biji durian, bila ditinjau dari komposisi kimianya, cukup berpotensi sebagai sumber gizi, yaitu mengandung protein 9,79%, karbohidrat 30%, kalsium 0,27% dan fosfor 0,9% (Wahyono, 2009). Oleh karena itu, biji durian dapat dijadikan alternatif olahan makanan berupa tepung yang dapat menambah informasi tentang gizi pada masyarakat dan menciptakan lingkungan yang bersih. Pengubahan bentuk biji durian menjadi tepung akan mempermudah pemanfaatan biji durian menjadi bahan setengah jadi yang fleksibel, karena selain tahan lama daya simpannya juga dapat dipakai sebagai penganekaragaman bahan makanan.
Menurut Sunarjono (1999), dalam pengolahan tepung biji durian dapat dilakukan dengan proses diblansing, direndam dalam air kapur, selanjutnya diiris tipis-tipis, dijemur dan ditumbuk sampai halus. Menurut Jarod (2007), perendaman dalam air kapur dapat memberi tekstur yang lebih keras, mengurangi rasa yang menyimpang, membuat tahan lama dan mencegah timbulnya warna atau pencoklatan. Berdasarkan pengamatan atas studi pendahuluan yang telah dilakukan, perendaman dalam air kapur juga terbukti dapat mengurangi getah atau lendir yang banyak terdapat pada biji durian yang telah dikupas kulitnya. Selain itu, alasan digunakan air kapur dalam proses pembuatan tepung biji durian ini adalah harganya yang murah dan terjangkau serta mudah didapatkan, juga sifatnya yang mudah larut dalam air.
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, ternyata teridentifikasi adanya oksalat dalam biji durian, hal ini dapat dilihat dalam proses perendaman biji durian dalam air kapur yang langsung mengikat getah pada biji durian sehingga terbentuk endapan dan juga uji sensori oksalat dengan adanya rasa gatal pada lidah ketika memakan biji durian yang mentah. Hal ini juga telah dibuktikan dengan beberapa uji identifikasi oksalat pada filtrat biji durian mentah yang dilakukan peneliti. Menurut Sutrisno (2007), salah satu cara mengurangi oksalat pada bahan makanan yaitu dengan cara menaikkan suplai kalsium yang akan dapat menetralkan pengaruh dari oksalat, hal ini dapat dilakukan dengan perendaman dalam air kapur. Berdasarkan hal ini, peneliti akan mencoba membuat tepung biji durian dengan variasi perendaman dalam konsentrasi air kapur yang berbeda-beda yaitu 5%, 10% dan 15%.
1.2. Perumusan Masalah
Bagaimana mutu tepung biji durian yang dihasilkan dari setiap variasi perendaman dalam air kapur dilihat dari kandungan gizi dan organoleptiknya?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui mutu tepung biji durian yang dihasilkan dari setiap variasi perendaman dalam air kapur dilihat dari kandungan gizi dan organoleptiknya.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kandungan gizi yaitu kadar air, abu, lemak, protein dan karbohidrat dari tepung biji durian yang dihasilkan dari setiap variasi perendaman dalam air kapur.
2. Untuk mengetahui organoleptik yaitu warna dan aroma dari tepung biji durian yang dihasilkan dari setiap variasi perendaman dalam air kapur.
1.4. Manfaat Penelitian
a. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang proses pembuatan tepung biji durian.
b. Sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang kandungan gizi dan organoleptik tepung biji durian yang dihasilkan dari setiap variasi perendaman dalam air kapur.
c. Sebagai salah satu upaya penganekaragaman bahan makanan dari biji buah durian.
d. Sebagai alternatif pemanfaatan sampah biji durian agar tercipta lingkungan yang bersih.
e. Sebagai alternatif dalam meningkatkan nilai ekonomis biji durian dan membuka lapangan usaha baru.
f. Sebagai upaya meningkatkan keterampilan dan meningkatkan nilai komoditas melalui pengembangan aneka tepung dan pengolahan bahan pangan lokal non beras menjadi produk olahan.



Pia Biji Nangka (KIR)

A. Latar Belakang
Malang merupakan kota wisata yang dikenal dengan pusat oleh-oleh berbagai macam olahan kripik buah-buahan salah satunya adalah kripik nangka. Dalam proses pembuatan kripik nangka yang diperlukan hanya daging buah nangkanya saja, sedangkan biji tidak dimanfaatkan dengan optimal atau menjadi limbah, biasanya pemilik pabrik membuang atau menanam kembali biji nangka tersebut dilahannya.
Limbah buah nangka yang berupa biji menurut data Direktorat gizi, Depkes (2009), biji nangka masih mempunyai kandungan gizi tinggi yaitu: setiap 100 gram biji nangka terdapat, zat besi 200 mg, vitamin B1 0,20mg,  kalori 165 kal, protein 4,2 gram, lemak 0,1 mg, karbohidrat 36,7 mg, kalsium 33,0 mg, fospor 1,0 mg, vitamin C 10 mg,  Air 56,7 gram. Oleh karena itu kami ingin memanfaatkan limbah biji nangka untuk pembuatan olahan yang merupakan diversivikasi pangan.
Untuk mengatasi limbah biji nangka tersebut atau mengurangi limbah biji nangka, kita dapat memanfaatkannya menjadi bahan baku pembuatan aneka macam makanan yang mempunyai kandungan gizi yang cukup banyak. Sehingga limbah biji nangka yang tadinya belum dimanfaatkan dapat diubah menjadi produk yang bernilai ekonomis.
Berdasarkan kondisi bahwa banyaknya limbah biji nangka yang tidak dimanfaatkan secara optimal padahal masih bernilai gizi, muncullah ide untuk membuat kue pia yang kemudian kami menamainya “PIBINA”, yaitu limbah biji nangka yang kami olah menjadi tepung  dan dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kue pia, dimana cara pengolahan produk ini dimulai dari buah nangka yang di ambil bijinya lalu dicuci bersih dan di rebus hingga matang untuk membuang getahnya dan dipotong tipis-tipis lalu dikeringkan dan digiling, lalu jadilah tepung nangka, untuk mendapatkan tepung yang halus maka tepung yang sudah digiling tadi  harus diayak terlebih dahulu agar terpisah dari serat-serat yang masih kasar. Cara pembuatan PIBINA, untuk kulitnya sebagai berikut: Mencampurkan 500 g tepung biji nangka , gula halus, air, mentega, garam hingga membentuk adonan yang dapat dipulung, pulung adonan sebesar bola bekel dan disisihkan. Mencampurkan 250 g tepung biji nangka dan minyak goreng hingga rata, gilas adonan yang telah dipulung, tuangkan beberapa sendok campuran tepung dan minyak, gulung, lalu digilas kembali hingga setebal 105 cm.  untuk isi PIBINA digunakan daging buah nangka matang yang dipotong kecil-kecil kemudian dicampur dengan gula halus, vanilli dan garam secukupnya. Setelah itu bagian isi dimasukkan kedalam adonan kulit pia kemudian diatur dalam loyang  lalu bagian atas pia diolesi dengan kuning telur, panggang dalam oven  hingga 180 derajat selama 30 menit. Setelah matang angkat lalu dinginkan. Proses selanjutnya adalah pengemasan yang dilakukan secara higienis, dan mengunakan sarung tangan pada saat pengemasan, kemudian pia dimasukkan kedalam kotak  mika yang ditutup rapat. Dalam proses pembuatan “PIBINA” tidak menggunakan bahan pengawet jadi aman dan sehat untuk dikomsumsi. PIBINA” berbentuk bulat dan mempunyai rasa serta aroma nangka yang khas.
Diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan  tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada gandum atau tepung terigu tetapi juga  upaya peningkatan perbaikan gizi untuk mendapatkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam percaturan globalisasi.  Upaya diversifikasi pangan sebetulnya sudah dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahuan 50-an. Namun sampai sekarang upaya tersebut masih sulit terwujud. Belajar dari pengalaman, Kebijakan diversifikasi pangan kedepan harus mengacu pada aturan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah  nomor 68 tentang Ketahanan Pangan, yaitu dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal serta ditetapkan oleh Menteri atau kepala Lembaga pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.  Ini berarti  keberhasilan diversifikasi pangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah (Amin, 2007).
Berangkat dari wacana dan peluang tersebut maka disusunlah proposal PKMK ini. Pemilihan biji nangka sebagai komoditas untuk dijadikan usaha dalam bentuk Pia, pia ini selain juga karena kandungan zat besi dan vitamin B1 yang tinggi, pemanfaatan biji nangka ini juga dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku tepung terigu.
Usaha ini dinamakan ”PIBINA” yang merupakan padanan dari kata Pia yang berasal dari biji nangka, usaha ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa wirausaha bagi mahasiswa. Sebagai alternatif pengganti ketergantungan akan bahan baku terigu dan juga menciptakan lapangan kerja yang baru bagi masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dikemukakan permasalahan yaitu:
1.   Apakah limbah biji nangka bisa dimanfaatkan sebagai diversifikasi salah satu olahan pangan?
2.   Bagaimana cara inovasi dari diversifikasi pangan yang berasal dari olahan biji nangka ?
3.   Bagaimana mengembangkan wirausaha diversivikasi pangan dengan pemanfaatan limbah biji nangka yang masih belum dimanfaatkan  ?
C.  Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1.   Memanfaatkan limbah biji nangka yang masih memiliki kandungan zat besi dan vitamin B1 yang tinggi.
2.   Inovasi pengolahan divesifikasi pangan berbahan baku limbah biji nangka  menjadi “PIBINA”.
3.   Alternatife wirausaha dibidang pangan dengan pemanfaatan limbah bji nangka yang memiliki kandungan gizi tinggi.
D.  Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini antara lain:
1. Aspek ekonomis membuka peluang wirausaha baru.
a.   Dapat memberikan alternative panganan yang bergizi tinggi dan variasi baru kepada masyarakat.
b.   Dapat memberikan peluang kewirausahaan baru.
2. Aspek akademi
Mengaplikasikan teori-teori pengolahan pangan dan ilmu gizi ke dalam kegiatan kewirausahan dibidang pangan.
3. Aspek ketenagakerjaan
Membuka lapangan di bidang kewirausahaan diversifikasi pangan dengan memanfaatkan limbah biji nangka.